Kasus Penganiayaan Santri AM: Bagaimana Seharusnya Orang Tua Memantau Perkembangan Anak Remaja?


Ilustrasi penganiayaan-Pavlofox-pixabay.com

JAYATI KEDIRI – Kabar mengenai tewasnya AM, salah seorang santri Gontor yang mengalami Penganiayaan hingga menghadapi maut menjadi potret yang mengenaskan dalam lingkungan sosial remaja. Direskrim Polda Jawa Timur mengungkap bahwa Penganiayaan yang terjadi pada santri yang berasal dari Palembang tersebut dilakukan oleh seniornya. Kronologi mengungkap bahwa AM menghilangkan pasak hingga kemudian dirinya dianiaya dan dipukul menggunakan tongkat pramuka.

Kematian AM mengantarkan duka yang mendalam bagi Soimah, ibu dari si korban. Ibu Soimah mengungkap bahwa anaknya tidak pernah bercerita sama sekali mengenai masalah yang dihadapinya ketika belajar di pondok pesantren.

(BACA JUGA:Opini: Bagaimana Seharusnya Dukungan Psikologis pada Anak Tersangka Kejahatan Diberikan?)

“Anak saya hanya bercerita mengenai prestasinya, tak pernah cerita kesulitannya ketika di pondok pesantren. Hingga saya berniat merekomendasikan adiknya yang baru lulus SD untuk segera bergegas mengikuti jejaknya namun anak saya menjawab tidak usah bu cukup saya saja”, tutur bu Shoimah ketika diwawancarai.

AM merupakan santri berusia 17 tahun, usia yang berada di akhir masa kanak-kanak dan bersiap menghadapi transisi  memasuki usia remaja. Pada usia ini, pemahaman diri dan pemahaman orang lain mulai mengalami kerumitan. Dalam bahasa Erickson, remaja pada fase ini berada di usia Industry VS Inverioritiy. Remaja untuk mencapai Industry dicerminkan dengan ketertarikan untuk membangun sesuatu dan mencari tahu cara kerja suatu hal, serta lebih suka menghabiskan waktu bersama kawan sebayanya. 

Beberapa sifat yang ditimbulkan anak saat memasuki remaja terkadang menyebabkan para orang tua kesulitan dalam melakukan pendekatan pada anak. Biasanya anak cenderung pendiam dan berbicara secukupnya. Hal ini merupakan ciri utama remaja yang sedang mencapai perkembangan untuk mencari identitas. Remaja tak sekedar terdorong untuk berpisah atau bebas dari kelekatan orang tuanya, lebih dari itu ia akan berusaha mencapai kompetensi sosial di lingkungan yang lebih luas.

Dalam hal ini, peran orang tua menjadi penting untuk diperhatikan. Seperti pada kasus AM, meski anak telah dititipkan pada suatu lembaga pendidikan, orang tua harus tetap aktif dalam melakukan monitoring terhadap tugas-tugas perkembangan yang perlu dicapai sepanjang masa kehidupannya. Hal itu tentu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak.

Pertanyaannya kemudian adalah “apa saja yang perlu orang tua tanyakan selama melakukan panggilan dengan anak-anak?”. Dalam buku Life-Span Development karya John W. Santrock, pengawasan orang tua terhadap anak meliputi kehidupan sosial yang dihadapinya, antara lain:

(BACA JUGA:Tugas, Wewenang dan Kewajiban Bawaslu dalam Mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia)

`
Kategori : Pendidikan